Mitra bhayangkara inobes.com//SIMALUNGUN — Groundbreaking Jembatan Aramco di Nagori Bosar Galugur, Kecamatan Tanah Jawa, Senin (06/04/2026), tak lagi dipandang sekadar seremoni pembangunan. Di mata masyarakat, ini adalah ujian serius: apakah proyek ini benar-benar akan selesai, atau kembali jadi janji yang hilang di tengah jalan.
Wakil Ketua DPRD Simalungun, Bapak Jefra H Manurung S.H, menyatakan dukungan penuh. Namun publik kini tidak butuh kata-kata—yang dituntut adalah pengawasan nyata, transparansi anggaran, dan keberanian memastikan proyek ini tidak melenceng.
Selama ini, masyarakat pedesaan seperti di Tanah Jawa terlalu sering berada di posisi yang sama: akses jalan terbatas, hasil pertanian terhambat, dan pembangunan yang datang terlambat—atau bahkan tidak pernah benar-benar selesai.
Karena itu, Jembatan Aramco bukan sekadar proyek. Ini adalah taruhan kepercayaan rakyat. Desakan mulai menguat agar DPRD tidak hanya hadir di awal pembangunan, tetapi turun langsung mengawasi progres, membuka informasi ke publik, dan memastikan tidak ada keterlambatan tanpa alasan jelas.
Masyarakat juga menuntut pemerintah daerah untuk tidak bermain aman di balik seremoni, melainkan bekerja terbuka—mulai dari nilai proyek, target waktu, hingga progres lapangan harus bisa diakses publik.
“Rakyat sudah terlalu sering menunggu. Jangan lagi ada cerita proyek dimulai dengan gegap gempita, tapi berakhir tanpa kejelasan,” menjadi suara keras yang kini bergema.
Jika proyek ini berhasil, ia akan menjadi bukti nyata keberpihakan kepada rakyat. Namun jika gagal, dampaknya lebih besar dari sekadar infrastruktur:
kepercayaan publik bisa runtuh.Kini tidak ada ruang untuk basa-basi.Kerja nyata atau kehilangan kepercayaan—itu pilihannya.(Red)







