Mitra bhayangkara inobes.com//Simalungun — Sorotan publik terhadap penanganan kasus narkoba di wilayah hukum Polres Simalungun kini semakin menguat. Rangkaian peristiwa yang terjadi menunjukkan pola yang sama: penggerebekan dilakukan, namun target utama justru lolos, Rabu (08/06/26).
Kejanggalan ini disebut berawal dari kasus Along di kawasan Kampung Jawa, Perdagangan 1, Kecamatan Bandar, Rabu lalu (1/4/2026) . Sosok Along yang sebelumnya menjadi perhatian publik dan disebut-sebut sebagai pemain besar, justru menghilang saat penggerebekan dilakukan.
Peristiwa tersebut kemudian diikuti kejadian lain yang tak kalah mengundang tanda tanya. Saat satreskoba menggerebek kampung korem, jumat malam (03/04/26), justru Tolok yang merupakan adik dari terduga bandar besar Heri yang kabur saat operasi berlangsung.
Tak terhenti di situ, di wilayah hukum Polsek Bosar Maligas, aparat kembali melakukan penggerebekan di lokasi yang diduga terkait aktivitas narkoba. Namun hasilnya serupa—pelaku yang menjadi target dikabarkan berhasil melarikan diri.
Rangkaian tiga peristiwa ini, Along di Kampung Jawa Perdagangan, Tolok di kampung korem, hingga pelaku kabur di wilayah Polsek Bosar Maligas ,hingga membentuk satu pola yang kini menjadi perbincangan luas di tengah masyarakat.
Mengapa setiap operasi berujung pada kaburnya target utama?
“Ini sudah berulang. Bukan sekali dua kali. Publik wajar mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Rikkot Damanik selaku ketua umum Bara Hati Indonesia.
Berbagai dugaan pun mulai bermunculan, mulai dari persoalan teknis di lapangan hingga kemungkinan adanya kebocoran informasi sebelum penggerebekan dilakukan. Meski demikian, hingga kini belum ada penjelasan resmi yang rinci untuk menjawab pola kejadian tersebut.
Sejumlah pihak menilai, jika kondisi ini terus berulang, maka upaya pemberantasan narkoba dikhawatirkan tidak menyentuh aktor utama dalam jaringan.
“Kalau yang lolos terus justru target utama, maka yang tertangkap hanya bagian kecil. Ini yang harus dijelaskan secara terbuka,” tegas Rikkot.
Desakan pun mengarah kepada Polda Sumatera Utara agar melakukan evaluasi menyeluruh, sekaligus memastikan setiap operasi berjalan efektif dan sesuai prosedur.
Masyarakat juga meminta keterbukaan dari Polres Simalungun terkait kronologi setiap penggerebekan, termasuk kendala yang dihadapi di lapangan.
Hingga kini, publik masih menunggu penjelasan resmi yang mampu menjawab rangkaian kejadian tersebut.Apakah ini murni kendala teknis, atau ada faktor lain yang belum terungkap?(Tim)







