Mitra bhayangkara inobes.com//Simalungun – Kasus jatuhnya Immanuel Situmeang dari lantai dua SMP Negeri 2 Balimbingan kini tidak hanya menuai kecaman, tetapi juga tuduhan terbuka dari kalangan aktivis yang menyebut adanya indikasi kuat kelalaian hingga dugaan penyimpangan anggaran.
Aktivis dari LSM pemerhati pendidikan dan anti-korupsi, Pahala Sihombing S.E, angkat bicara dengan nada keras dan tanpa kompromi. Ia menyebut kasus ini sebagai “bom waktu yang akhirnya meledak”.
“Kami tidak mau ini diputar jadi sekadar kecelakaan. Ini jelas dugaan kelalaian serius. Bahkan kami mencium ada potensi penyimpangan dana BOS. Jangan tutup mata!” tegas Pahala.
Menurutnya, kondisi pagar pengaman yang diduga sudah karatan dan rapuh bukan hal yang terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi dari pembiaran.
“Kalau pagar sampai patah dan menjatuhkan siswa, itu bukan baru rusak kemarin. Artinya ada pembiaran bertahun-tahun. Pertanyaannya: dana perawatan ke mana?” serangnya.
Pahala bahkan secara terang-terangan menantang aparat penegak hukum (APH) untuk bertindak tegas, bukan sekadar formalitas.
“Kami menduga ada yang tidak beres dalam pengelolaan anggaran sekolah. APH jangan jadi penonton! Periksa semua—kepala sekolah, bendahara, sampai penggunaan dana BOS. Kalau perlu, buka semua rekeningnya!” katanya lantang.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti sikap Dinas Pendidikan yang dinilai tidak responsif.
“Diamnya Dinas Pendidikan justru memperkuat dugaan publik. Kalau bersih, kenapa takut bicara? Ini uang negara, bukan uang pribadi!” ujarnya tajam.
Sementara di kutip dari unggahan media sosial facebok (BDS), bahwasanya Dr. H. Novri Oppusunggu, SH, MH juga telah mendesak audit total dan kemungkinan pencopotan kepala sekolah jika terbukti lalai.
Kasus ini semakin memanas setelah diketahui korban Immanuel Situmeang jatuh dari ketinggian sekitar 5 meter dan hingga kini masih dirawat di RS Evarina Pematangsiantar.
Pihak sekolah berdalih biaya ditanggung BPJS dan bantuan internal. Namun publik menilai hal tersebut tidak menyentuh akar masalah utama: dugaan kelalaian dan buruknya pengelolaan fasilitas sekolah.
Kini tekanan semakin keras:
audit, investigasi, dan penegakan hukum menjadi tuntutan terbuka.
“Kalau kasus ini tidak diusut tuntas, kami pastikan akan turun aksi. Ini menyangkut nyawa anak, bukan angka di atas kertas!” tutup Pahala Sihombing SE. (Tim)







