Mitra bhayangkara inobes.com//Simalungun: Tanah Jawa, Kamis (09/04/2026) — Skandal kelistrikan mengguncang Tanah Jawa. Padamnya listrik yang seharusnya menjadi persoalan teknis, kini berubah menjadi krisis kepercayaan publik terhadap PLN setelah muncul dugaan kuat adanya informasi palsu yang disampaikan kepada masyarakat.
Yang lebih memicu kemarahan, listrik dilaporkan padam sejak pukul 15.30 WIB hingga pukul 23.30 WIB masih belum menyala. Selama berjam-jam masyarakat dibiarkan dalam kegelapan tanpa kepastian.
Sorotan tajam mengarah kepada Manager ULP Tanah Jawa, Andreas Karo-karo, yang diduga menyampaikan keterangan tidak sesuai fakta di tengah kondisi krisis.
Dalam pesan WhatsApp pukul 19.45 WIB, ia menyebut petugas telah berada di lokasi dan melakukan tindakan teknis:
“Sudah di lokasi mereka, bang. Lepas FCO simpang.”
Namun fakta di lapangan justru membongkar narasi tersebut.
Tim media yang turun langsung ke titik lokasi tidak menemukan satu pun aktivitas petugas PLN. Bahkan hingga pukul 23.30 WIB, saat listrik masih padam, petugas tidak kunjung datang ke lokasi yang disebut mengalami gangguan akibat alat yang lepas.
Tidak ada perbaikan. Tidak ada penanganan. Dan tidak ada kejelasan.
Kondisi ini memantik kemarahan publik dan memperkuat dugaan bahwa masyarakat telah diberi harapan palsu di tengah krisis.
Reaksi keras langsung meledak dari Satgas Bara Hati Indonesia.
Ketua Satgas, Ramlan Sirait, secara frontal menyebut peristiwa ini sebagai bentuk penyesatan informasi yang tidak bisa ditoleransi.
“Ini bukan lagi soal miskomunikasi. Ini sudah masuk kategori mempermainkan rakyat dengan informasi yang tidak benar! Dalam kondisi darurat, masyarakat butuh kejujuran, bukan narasi kosong. Ini bentuk penghinaan yang sangat serius!”
Lebih jauh, Ramlan menegaskan bahwa kasus ini tidak boleh berhenti di level unit, melainkan harus ditarik ke level pimpinan wilayah PLN.
“Kami menduga ini bukan sekadar kesalahan individu. Ada pola pembiaran! Pimpinan wilayah PLN harus bertanggung jawab. Kalau bawahan berani bicara tidak sesuai fakta, pertanyaannya: sistem pengawasannya di mana? Atau jangan-jangan ini sudah jadi kebiasaan?”
Ia bahkan menyebut kejadian ini sebagai alarm darurat runtuhnya kepercayaan publik terhadap PLN.
“Lebih 9 jam masyarakat dibiarkan gelap tanpa kepastian, dan lebih parahnya lagi diduga diberi informasi yang tidak sesuai fakta. Ini bukan hanya soal listrik padam, ini soal integritas!”
Satgas Bara Hati Indonesia pun mengeluarkan tuntutan keras tanpa kompromi:
Copot Manager ULP Tanah Jawa jika terbukti memberi informasi palsu
Pimpinan wilayah PLN wajib turun langsung dan buka suara
Audit total sistem respons gangguan PLN
Transparansi penuh kepada publik, tanpa rekayasa informasi
“Kalau PLN terus diam, publik akan menilai ada yang sedang ditutupi. Jangan uji kesabaran masyarakat! Kami siap bawa persoalan ini ke tingkat nasional!”
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PLN belum memberikan klarifikasi resmi.
Kini, yang padam bukan hanya listrik di rumah warga. Kepercayaan publik terhadap PLN juga berada di titik paling gelap.(Tim)







